Bekerja Sama dalam Team (Kelompok) #

    Membangun sebuah tim yang meliputi berbagai pengetahuan, keahlian, dan perspektif, seorang manajer dapat menghasilkan lebih banyak kreativitas dan keaktifan daripada yang ditemukan dalam diri seseorang atau dalam sebuah kelompok dengan keterampilan yang sama

    Untuk mengerti secara jelas apa itu team (kelompok), karakteristik hingga implikasi tim secara manajerial, maka akan dijeleskan sebagai berikut:

Pengertian Kelompok & Karakteristiknya

Sebuah kelompok (group) didenfinisikan sebagai dua individu atau lebih, yang berinteraksi dan saling bergantung, bergabung untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.

Karakteristik kelompok yang digolongkan oleh Theodore Caplov (1956), sebagai berikut:

  1. Kelompok kecil

    Ada dua jenis kelompok kecil, yaitu:

    1. Kelompok primer

      Tiap anggota berinteraksi dengan setiap anggota lainnya dalam kelompok. Jumlah anggota 2-20 orang.

    2. Kelompok non primer

      Interaksi antaranggota tidak seinsentif pada kelompok primer. Jumlah anggota 3-30 orang.

      Karakteristik kelompok kecil adalah mudah saling bertemu antaranggota (frekuensi pertemuan tinggi), pertemuan bersifat tatap muka, dimungkinkan adanya otoritas tanpa perwakilan (yang dianggap pemimpin dalam kelompok langsung dapat mengatur anggotanya tanpa memerlukan wakil, staf atau mandor).

  2. Kelompok medium

    Kelompok ini ukurannya terlalu besar untuk hubungan intensif tatap-muka antarsetiap anggota kelompok. Akan tetapi, cukup kecil untuk memungkinkan seseorang berhubungan intensif dengan siapa pun dalam kelompok itu.

    Kelompok ini biasanya memerlukan pengorganisasian yang relative normal. Kegiatan sehari-hari dikelola atau diatur oleh sejumlah kecil anggota kelompok yang menduduki jabatan pimpinan yang merupakan klik yang saling berhubungan erat. Tanpa adanya hubungan erat antara anggota pimpinan, kelompok tidak berjalan dengan baik karena kelompok medium ini tidak mungkin dikendalikan pimpinan seorang diri.

  3. Kelompok besar

    Kelompok ini terlalu besar untuk saling mengenal intensif antar-anggota, tetapi tidak terlalu besar untuk orang-orang tertentu dapat dikenal secara umum (dalam arti diketahui siapa dia, apa kelebihannya, apa kekurangannya, apa keahliannya, dan sebaginya) oleh anggota kelompok lain.

  4. Kelompok sangat besar (kelompok “raksasa”)

    Kelompok sangat besar ini terbagi atas dua jenis, yaitu sebagai berikut:

    1. Yang terorganisir secara formal (Negara, tentara, perusahaan multi-Nasional)

      Struktrur organisasi itu biasanya piramidial dan komunikasi anata anggota papan saling bawah dengan pimpinan pada papan atas, walaupun secara teoritis dimungkinkan, dalam praktik hampir tidak pernah terjadi.

    2. Yang tidak terorganisir secara formal (public)

      Jenis ini mengandalkan diri sepenuhnya pada komunikasi melalui media massa.

Tahapan Perkembangan Kelompok

Kelompok biasanya berkembang melalui sebuah urutan terstandar dalam evolusi mereka. Kita menyebut urutan ini model lima tahap perkembangan kelompok. Moel lima tahap perkembangan kelompok (five-stage group-development model) menyebutkan karakteristik perkembangan kelompok dalam lima tahap yang berbeda: pembentukan, timbulnya konflik, normalisasi, hasil berupa kinerja, dan pembubaran.

Tahap Pertama, Pembentukan (forming), memiliki karakteristik besarnya ketidakpastian atas tujuan, struktur,dan kepemimpinan kelompok tersebut. Para anggotanya’menguji kedalaman air’ untuk menentukanjenis-jenis perilaku yang dapat diterima. Tahap ini selesai ketika para anggotanya mulai menganggap diri mereka sebagai bagian dari kelompok.

Tahap Timbulnya konflik (storming stage) adalah satu dari konflik intrakelompok. Para anggotanya menerima keberadaan kelompok tersebut, tetapi terdapat penolakan terhadap batasan-batasan yang diterapkan kelompok tersebut terhadap setiap individu. Lebih jauh lagi, terdapat konflik atas siapa yang akan mengendalikan kelompok tersebut. Ketika tahap ini selesai, terdapat sebuah hierarki yang relative jelas atas kepemimpinan dalam kelompok tersebut.

Tahap ketiga dalah tahap di mana hubungan yang dekat terbentuk dan kelompok tersebut menunjukan kekohesifan. Dalam tahap ini terdapat sebuah rasa yang kuat akan identitas kelompok dan persahabatan. Tahap normalisasi (norming stage) ini selesai ketika struktur kelompok telah mengasilimasi serangkaian ekspektasi umum definisi yang benar atas perilaku anggota.

Tahap keempat adalah berkinerja (performing). Pada titik ini struktur telah sepenuhnya fungsional dan dapat diterima. Energi kelompok telah berpindah dari saling mengenal dan memahami menjadi mengerjakan tugas yang ada.

Untuk kelompok-kelompok kerja yang permanen, berkinerja adalah tahap terakhir dalam perkembangan mereka. Tetapi, untuk komisi, tim, angkatan tugas sementara, dan kelompok-kelompok serupa yang mempunyai tugas yang terbatas untuk dilakukan,tedapat tahap pembubaran (adjourning stage). Dalam tahap ini, kelompok tersebut mempersiapkan diri untuk pembubarannya. Kinerja tugas yang tinggi tidak lagi menjadi prioritas tertinggi kelompok. Sebgai gantinya, perhatian diarahkan untuk menyelesaikan aktivitas-aktivitas. Respon dari anggota kelompok dalam tahap ini bervariasi. Beberapa merasa gembira, bersenang-senang dalam pencapaian kelompok tersebut. Lainnya mungkin merasa tertekan atas kehilangan persahabatan dan pertemanan yang didapatkan selama berkehidupan kelompok kerja tersebut.

Kekuatan Team Work

Teamwork adalah sumber kekuatan (sinergisme), di mana focus utama adalah kerja sama/ saling bersinergi anata yang satu dengan yang lainnya. Ada kalanya, 3 lebih baik dari 10 dengan kekuatan yang sama.

Seperti contoh: Ada 3 pekerja yang searah dan saling mendukung (1+1+1 = 3), dibandingkan dengan 10 pekerja, tapi berlawanan arah, misalnya (2+2-2-2+1-1 = 0).

    Dewasa ini, tolak ukur dari suatu keberhasilan/kesuksesan dari sebuah organisasi sangat ditentukan oleh sejuh mana organisasi tersebut menerapkan teamwork (kerja sama tim).

    Untuk melihat hubungan dari teamwork dengan philosophy success dan skala kematangan (maturity continuum), penulis merangkum dan menggabungkan dari beberapa kata-kata di bawah ini:

    Kesuksesan tidak akan tercapai tanpa adanya kerja sama tim. Kerjasama tim tidak akan behasil tanpa adanya persahabatan. Persahabatan tidak akan tercapai tanpa adanya kepercayaan. Kepercayaan tidak akan tercapai tanpa adanya integritas. Integritas tidak akan tercapai tanpa adanya iman kepercayaan. Iman kepercayaan tidak akan tercapai tanpa adanya kebajikan. Kebajikan tidak akan tercapai tanpa adanya pengetahuan. Pengetahuan diri tidak akan tercapai tanpa adanya pengendalian diri. Pengendalian diri tidak akan tercapai tanpa adanya ketekunan. Ketekunan tidak akan tercapai tanapa adanya kesalehan. Kesalehan tidak akan tercapai tanpa adanya persaudaraan yang baik. Persaudaraan yang baik tidak akan tercapai tanpa adanya kasih.

Implikasi Manajerial

Dalam sebuah pandangan oleh Dr. Sayyid al-Hawari melihat bahwa ada factor keterampilan yang harus dimiki oleh seorang manajer. Beliau membagi dalam beberapa kelompok mengenai implikasi manajerial dalam teamwork.

  1. Kelompok Pertama

    Berhubungan dengan bagaimana berinteraksi dengan berbagai macam manusia yang berbeda, hal itu mencakup:

  • Keterampilan memotivasi orang untuk bekerja (berbagai macam manusia)
  • Keterampilan mendengar orang lain
  • Keterampilan berhubungan dengan orang lain
  1. Kelompok Kedua

    Keterampilan-keterampilan yang berkaitan dengan informasi:

  • Keterampilan mengumpulkan informasi (yang cocok, detail, dan tepat waktu)
  • Keterampilan menyimpan informasi-informasi dengan tujuan dapat menyampaikan dengan cepat
  • Keterampilan menafsirkan dan menganalisis topik-topik
  1. Kelompok Ketiga

    Keterampilan-keterampilan dalam mengambil keputusan:

  • Keterampilan membaca masalah
  • Keterampilan menganalisi topic
  • Memahami sisi ekonomis proyek dan investasi (biaya dan hasil)
  • Memahami prioritas dan kerja yang dibutuhkan.

 

Sumber:

Harvard Business School. Tahun 2007. Pocket Mentor: Memimpin Tim. Penerbit: Erlangga. Jakarta. (Waktu Akses : Minggu, 29 Juni 2014; Pukul: 21.21 pm)

Jawwad, Muh. Abdul. Tahun 2004. Menjadi Manager Sukses. Penerbit: Gema Insani. Jakarta (Waktu Akses: Senin, 30 Juni 2014; Pukul: 22.00 pm)

L. Toruan, Rayendra. Tahun 2010. Orang Batak Kasar? Membangun Citra & Karakter. Depok (Waktu Akses : Senin, 30 Juni 2014; Pukul: 23.30 am)

Wirawan S., Sarlito. Tahun 1999. Psikologi Sosial Kelompok dan Terapan. Penerbit : PT Balai Pustaka. Jakarta (Waktu Akses : Minggu, 29 Juni 2014 ; Pukul: 14.00 pm)

P. Robbins, Stephen, A. Judge, Timothy. Tahun 2008. Perilaku Organisasi Edisi 12. Penerbit: Salemba Empat. Jakarta (Waktu Akses : Minggu, 29 Juni 2014 ; Pukul: 14.05 pm)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s