Pengambilan Keputusan Dalam Organisasi #4

Keberhasilan suatu organisasi dalam mencapai tujuan yang ditetapkan ditentukan oleh fungsi yang sangat penting dalam memimpin, yaitu pengambilan keputusan. Pegambilan keputusan merupakan inti kepemimpinan, artinya bahwa kualitas kepemimpinan seorang manajer akan ikut ditentukan oleh kualitas dari keputusan-keputusan yang diambil dalam sebua organisasi/instansi. Berikut definisi dari pengambilan keputusan:

1.Definisi & Dasar Pengambilan Keputusan

Definisi Pengambilan Keputusan Menurut Beberapa Ahli:

Robins (1997:236) berpendapat bahwa “decision maing is which on choses between two or more alternative“. Berdasarkan pendapat di atas dapat dipahami bahwa hakikat pengambilang keputusan ialah memilih dua alternative atau lebih untuk melakukan suatu tindakan tertentu baik secara pribadi maupun kelompok.

Suatu putusan ialah proses memilih tindakan tertentu anatara sejumlah tindakan alternative yang mungkin (Sutisna, 1985: 149).

    Simon (1993) dalam jurna Educational Administration Quarterly menggunakan istilah yang sangat luas untuk mencakup tiga bidang cakupan masalah. Pertama, menemukan masalah yang menarik perhatian dan yang menyertai masalah tersebut. Kedua, bagaian dari proses pengambilan keputusan. Ketiga, masalah evaluasi terhadap solusi dan pemilihan terhadap berbagai solusi.

    Sejalan dengan pendapat diatas, Mody dan Premeaux (1995: 108) menjelaskan bahwa “decision making is process of generating and evaluating alternatives and making choises among them“. Pendapat ini menegaskan bahwa pengambilan keputusan merupakan proses pada saat ada sejumlah langkah yang harus dilakukan dan pengevaluasian alternative untuk membuat putusan dari semua alternative yang ada.

    Bertolak dari definisi di atas dapat disimpulakan bahwa pengambilan keputusan ialah proses pemecahan masalah dengan pilihan dari beberapa alternative untuk menetapkan suatu tindakan dalam mencapai tujuan yang diinginkan.


Dasar Pengambilan Keputusan

Setiap proses pengambilan keputusan meurpakan suatu tindakan karena beberapa komponen didalamnya. menurut Pradjudi (1997: 45), kerangka dasar sistem pengambilan keputusan adalah sebagai berikut:

  • Posisi orang yang berwenang dalam pengambilan keputusan
  • Problema (penyimpangan dari apa yang dikehendaki dan direncanakan atau dituju)
  • Kondisi si pengambil keputusan itu berada
  • Kondisi si pengambil keputusan (kekuatan dan kemampuan menghadapi problem)
  • Tujuan (apa yang diinginkan atau dicapai dengan pengambilan keputusan)

     

    2.Jenis-jenis Keputusan Organisasi

Setiap tingkatan mempunyai kebutuhan informasi yang berbeda untuk membantu mengambil keputusan dan tanggung jawab atas jenis-jenis keputusan yang berbeda. Keputusan diklasifikasikan sebagai keputusan terstruktu, semiterstruktur dan tidak terstruktur.

  • Keputusan tidak terstruktur (unstructured decision) adalah keputusan yang pengambil keputusannya harus memberikan penilaian, evaluasi, dan pengertian untuk memecahakan masalahnya. Setiap keputusan ini adalah baru, penting dan tidak rutin, dan ada pengertian yang dipahami benar atau prosedur yang disetujui bersama dalam pengambilannya.
  • Keputusan terstruktur (structured decision), sebalinya, sifatnya berulang dan rutin, dan melibatkan prosedur yang jelas dalam menanganinya, sehingga tidak perlu diperlakukan seakan-akan masih baru. Banyak keputusan memiliki elemen-elemen dari kedua jenis keputusan ini.
  • Keputusan semi tersruktur (semistructured decision), yaitu yang hanya sebagian masalahnya mempunyai jawaban yang jelas tersedia dengan prosedur yang disetujui bersama.

Secara umum, keputusan terstruktur lebih umum dijumpai pada tingkat organisasi rendah, sedangkan masalah yang tidak terstruktur lebih umum dijumpai pada tingkat tinggi.

3.Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan

Setiap keputusan itu merupakan tindakan permulaan dari serangkaian kegiatan berikutnya. Kemudian terdapat enam faktor lain yang juga ikut mempengaruhi pengambilan keputusan.

  • Fisik, didasarkan pada rasa yang dialami pada tubuh, seperti rasa tidak nyaman, atau kenikmatan. Ada kecenderungan menghindari tingkah laku yang menimbulkan rasa tidak senang, sebaliknya memilih tingkah laku yang memberikan kesenangan.
  • Emosional, didasarkan pada perasaan atau sikap. Orang akan bereaksi pada suatu situasi secara subjective.
  • Rasional, didasarkan pada pengetahuan orang-orang mendapatkan informasi, memahami situasi dan berbagai konsekuensinya.
  • Praktikal, didasarkan pada keterampilan individual dan kemampuan melaksanakan. Seseorang akan menilai potensi diri dan kepercayaan dirinya melalui kemampuanya dalam bertindak.
  • Interpersonal, didasarkan pada pengaruh jaringan sosial yang ada. Hubungan antar satu orang keorang lainnya dapat mempengaruhi tindakan individual.
  • Structural, didasarkan pada lingkup sosial, ekonomi dan politik. Lingkungan mungkin memberikan hasil yang mendukung atau mengkritik suatu tingkah laku tertentu.

     

    4.Implikasi Manajerial

Menurut sebuah analisi mengenai self-efficacy oleh Gist dan Mitchell, penelitian mengenai self-efficacy telah mengarah pada beberapa temuan yang konsisten. Mereka menyatakan bahwa self-efficacy berhubungan dengan kinerja dalam pekerjaan. . Self-efficacy adalah berhubungan dengan keyakinan pribadi mengenai kompetensi dan kemampuan diri. Oleh karena itu, perasaan . Self-efficacy adalah berhubungan dengan keyakinan pribadi mengenai kompetensi dan kemampuan diri
memiliki sejumlah implikasi manajerial dan organisasional:

  • Keputusan
    seleksi – Organisasi seharusnya memilih individu yang memiliki perasaan self-efficacy yang tinggi. Individu-individu tersebut dapat dimotivasi untuk terliabat dalam perilaku yang akan membantu mereka berkinerja dengan baik.
  • Program pelatihan – Organisasi seharusnya mempertimbangkan tingkat self-efficacy karyawan ketika memilih kandidat untuk program pelatihan. Jika anggaran pelatihan terbatas maka lebih banyak pengembalian (misalkan kinerja) dari investasi pelatihan yang dapat direalisasi dengan mengirimkan hanya karyawan yang memiliki self-efficacy tinggi. Individu jenis ini akan cenderung belajar lebih banyak dari pelatihan, dan pada akhirnya akan lebih mungkin untuk menggunakan pelatihan tersebut untuk meninggalkan kinerja pekerjaan.
  • Penetapan tujuan dan kinerja – Organisasi dapat mendorong tujuan kinerja yang lebih tinggi dari karyawan yang memiliki target sefl-efficacy yang tinggi. Hal ini akan menghasilkan tingkat kinerja yang lebih tinggi dari karyawan, yang penting bagi banyak organisasi pada era hiperkompetisi.

DAFTAR PUSTAKA

Anzizhan, Syafaruddin. Sistem Pengambilan Keputusan Pendidikan. Penerbit: PT Grasindo. Jakarta

C.Laudon, Kenneth, P. Laudon, Jane. Sistem Informasi Manajemen Edisi 10. Penerbit: Salemba Empat. Jakarta.

M. Ivancevich, John, Konopaske, Robert, T. Matteson, Michael. Tahun 2007. Perilaku dan Manajeman Organisasi edisi 7, Jilid 1. Penerbit: Erlangga. Jakarta.

http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=2&ved=0CC0QFjAB&url=http%3A%2F%2Fejournal.unp.ac.id%2Findex.php%2Fbahana%2Farticle%2Fdownload%2F2686%2F2285&ei=jWd0U4zNL4q0uAT404DQDg&usg=AFQjCNH6Dv9sTSHAOGsG7d6CpM37tP9ItQ&bvm=bv.66699033,d.c2E (Tgl & Waktu Akses : Kamis, 15 Mei 2014, pukul: 11.45 am)

http://melkyat.blogspot.com/2013/05/faktor-faktor-yang-mempengaruhi_27.html (Tgl & Waktu Akses : Kamis, 15 mei 2014, pukul 15.00 )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s