KEPEMIMPINAN # 3

  1. Arti Penting Kepemimpinan

Kepemimpinan dapat diartikan sebagai proses mempengaruhi dan mengarahkan para pegawai dalam melakukan pekerjaan yang telah ditugaskan kepada mereka.Sebagaimana didefinisikan oleh Stoner, Freeman, dan Gilbert (1995), kepemimpinan adalah the process of directing and influencing the task related activities of group
members. Kepemimpinan adalah proses dalam mengarahkan dan mempengaruhi para anggota dalam hal berbagai aktivitas yang harus dilakukan. Lebih jauh lagi, Griffin (2000) membagi pengertian kepemimpinan menjadi dua konsep, yaitu sebagai proses, dan sebagai atribut. Sebagai proses, kepemimpinan difokuskan kepada apa yang dilakukan oleh para pemimpin, yaitu proses di mana para pemimpin menggunakan pengaruhnya untuk memperjelas tujuan organisasi bagi para pegawai, bawahan, atau yang dipimpinnya, memotivasi mereka untuk mencapai tujuan tersebut, serta membantu menciptakan suatu budaya produktif dalam organisasi. Adapun dari sisi atribut, kepemimpinan adalah kumpulan karakteristik yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Oleh karena itu, pemimpin dapat didefinisikan sebagai seorang yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain tanpa menggunakan kekuatan, sehingga orang-orang yang dipimpinnya menerima dirinya sebagai sosok yang layak memimpin mereka.

Selain itu banyak juga pendapat dari para tokoh mengenai arti dari kepemimpinan

ini, yaitu:

  1. Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi yang dijalankan dalam suatu situasi tertentu, serta diarahkan melalui proses komunikasi, kearah pencapaian satu atau beberapa tujuan tertentu. (Tannenbaum, Weschler, & Massarik, 1961:24)
  2. Kepemimpinan adalah pembentukkan awal serta pemeliharaan struktur dalam harapan dan interaksi (Stogdill, 1974:411).
  3. Kepemimpinan adalah peningkatan pengaruh sedikit demi sedikit pada dan berada di atas kepatuhan mekanis terhadap pengarahan rutin organisasi ( Katz & Kahn,1978:528).
  4. Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktifitas sebuah kelompok yang diorganisasi kea rah pencapaian tujuan ( Rauch & Behling, 1984:46).

Organisasi membutuhkan kepemimpinan dan manajemen yang kuat agar efektifitasnya optimal. Di dunia yang serba dinamis seperti sekarang ini, kita membutuhkan pemimpin-pemimpin yang berani menentang status qou, menciptakan visi masa depan, dan mengilhami anggota-anggota organisasi untuk secara sukarela mencapai visi tersebut. Kita juga membutuhkan untuk merumuskan rencana yang mendetail, menciptakan struktur organisasi yang efisien dan mengawasi operasi sehari-hari.

 

  1. Tipologi Kepemimpinan

Gaya kepemimpinan, pada dasarnya mengandung pengertian sebagai suatu perwujudan tingkah laku dari seorang pemimpin, yang menyangkut kemampuannya dalam memimpin. Perwujudan tersebut biasanya membentuk suatu pola atau bentuk tertentu. Pengertian gaya kepemimpinan yang demikian ini sesuai dengan pendapat yang disampaikan oleh Davis dan Newstrom (1995). Keduanya menyatakan bahwa pola tindakan pemimpin secara keseluruhan seperti yang dipersepsikan atau diacu oleh bawahan tersebut dikenal sebagai gaya kepemimpinan.Gaya kepemimpinan dari seorang pemimpin, pada dasarnya dapat diterangkan melalui tiga aliran teori berikut ini.

Teori Genetis (Keturunan). Inti dari teori menyatakan bahwa “Leader are born and nor made” (pemimpin itu dilahirkan (bakat) bukannya dibuat). Para penganut aliran teori ini mengetengahkan pendapatnya bahwa seorang pemimpin akan menjadi pemimpin karena ia telah dilahirkan dengan bakat kepemimpinan. Dalam keadaan yang bagaimanapun seseorang ditempatkan karena ia telah ditakdirkan menjadi pemimpin, sesekali kelak ia akan timbul sebagai pemimpin. Berbicara mengenai takdir, secara filosofis pandangan ini tergolong pada pandangan fasilitas atau determinitis.

Teori Sosial. Jika teori pertama di atas adalah teori yang ekstrim pada satu sisi, maka teori inipun merupakan ekstrim pada sisi lainnya. Inti aliran teori sosial ini ialah bahwa “Leader are made and not born” (pemimpin itu dibuat atau dididik bukannya kodrati). Jadi teori ini merupakan kebalikan inti teori genetika. Para penganut teori ini mengetengahkan pendapat yang mengatakan bahwa setiap orang bisa menjadi pemimpin apabila diberikan pendidikan dan pengalaman yang cukup.

Teori Ekologis. Kedua teori yang ekstrim di atas tidak seluruhnya mengandung kebenaran, maka sebagai reaksi terhadap kedua teori tersebut timbullah aliran teori ketiga. Teori yang disebut teori ekologis ini pada intinya berarti bahwa seseorang hanya akan berhasil menjadi pemimpin yang baik apabila ia telah memiliki bakat kepemimpinan. Bakat tersebut kemudian dikembangkan melalui pendidikan yang teratur dan pengalaman yang memungkinkan untuk dikembangkan lebih lanjut. Teori ini menggabungkan segi-segi positif dari kedua teori terdahulu sehingga dapat dikatakan merupakan teori yang paling mendekati kebenaran.

Dalam praktiknya, dari ketiga gaya kempemimpinan tersebut berkembang beberapa tipe kepemimpinan; diantarnya adalah sebagai berikut (Siagian, 1997).

  1. Tipe Orakratis

    Seorang pemimpin yang orakratis ialah pemimpin yang memiliki criteria atau cirri sebagai berikut:

  • Menganggap organisasi sebagai pemilik pribadi
  • Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi
  • Menganggap bawahan sebagai alat semata-mata
  • Tidak mau menerima kritik, darn dan pendapat
  • Terlalu tergantung kepada kekuasaan formalnya
  • Dalam tindakan penggerakkanya sering mempergunakan pendekatan yang mengandung unsure paksaan dan bersifat menghukum.
  1. Tipe Militeristis

    Perlu diperhatikan terlebih dahulu bahwa yang dimaksud dari seorang pemimpin militerisme berbeda dengan pemimpin organisasi militer. Seorang pemimpin yang bertipe militeristis iala seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifat berikut:

  • Dalam menggerakkan bawahan sistem perintah yang lebih sering dipergunakannya
  • Senang pada formalitas yang berlebih-lebihan
  • Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan
  • Sukar menerima kritikan dari bawahannya
  • Menggemari upacara-upacara untuk berbagai keadaan.
  1. Tipe Paternalis
  • Menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa
  • Bersikap selalu melindungi (overly protectivr)
  • Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan
  • Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil inisiatif
  • Jarang memberikan kesempata kepada bawahannya untuk mengembangkan daya kreasi dan fantasinya
  • Sering bersikap maha tahu
  1. Tipe Karismatik

    Hingga sekarang ini para ahli belum berhasil menemukan sebab-sebab mengapa seseorang pemimpin memiliki karisma. Umunya diketahui bahwa pemimpin yang demikian mempunyai daya tarik yang amat besar dan karenanya pada umumnya mempunyai pengikut yang jumlahnya yang sangat besar, meskipun para pengikut itu sering pula tidak menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin itu. Karena kurangnya pengetauan tentang sebab musabab seseorang menjadi pemimpin yang karismatik, maka sering anya dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan kekuatan gaib (supra natural powers). Kekayaan, umur, kesehatan, profil tidak dapat dipergunakan sebagai criteria untuk karisma.

  2. Tipe Deomokratis

    Pengetahuan tentang kepemimpinan telah membuktikan bahwa tipe pemimpin yang demokratislah yang paling tepat untuk organisasi modern. Hal ini terjadi karena tipe kepemimpinan ini memiliki karakteristik sebagai berikut:

  • Dalam proses penggerakkan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah mahluk yang termulia di dunia
  • Selalu berusaha mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan pribadi dari pada bawahannya
  • Senang menerima saran, pendapat dan bahkan kritikan dari bawahannya
  • Selalu berusaha mengutakamakan kerjasama dan teamwok dalam usaha mencapai tujuan
  • Ikhlas memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada bawahannya untuk berbuat kesalahan yang kemudian diperbaiki agar bawahan itu tidak lagi berbuat kesalahan yang sama, tetapi lebih berani untuk berbuat kesalahan yang lain
  • Selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses daripadanya
  • Dan berusahan mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pimpinan.

     

  1. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Kepemimpinan

Banyak peneliti telah menambah dan menguraikan factor-faktor yang mempengaruhi gaya kepemimpinan yang dipilih seorang manajer dan seberapa efektif gaya tertentu. Seorang manajer yang salah mengartikan suatu situasi mungkin hanya akan secara bertahap dapat memahami dimensi yang hanya akan secara bertahap dapat memahami dimensi yang sesungguhnya. Sebagai contoh, seorang manajer yang berpendapat bahwa bawahannya malas dan kurang mampu mengelola mereka atas dasar tersebut untuk jangka waktu yang lama, sekalipun bawahan yang bersangkutan sesungguhnya ingin sekali bekerja dan mempunyai keterampilan yang istimewa. Agar gaya kepemimpinan manajer berubah ke gaya yang lebih sesuai dengan situasi, maka persepsi manajer mengenai situasi tersebut pertama-tam harus diubah. Berikut factor-faktor yang memperngaruhi efektifitas pemimpin mencakup:

  • Kepribadaian, pengalaman masa lampau, dan harapan dari pemimpin yang bersangkutan
  • Harapan dan perilaku atasan
  • Karakteristik, harapan, dan perilaku bawahan
  • Kultur dan kebijakan organisasi
  • Dan harapan serta perilaku rekan kerja

     

  1. Implikasi Manajerial Kepemimpinan dalam Organisasi

Tahap terakhir adari proses manajemen adalah pengendalian (controlling), atau pemantauan kemajuan organisasi dalam mencapai tujuannya. Ketika organisasi bergerak menuju tujuannya, manajer haru memonitor kemajuan untuk memastikan bahwa organisasi tersebut berkinerja sedemikian rupa sehingga akan mencapai tujuannya pada waktu yang telah ditentukan.

Manajer harus sepenuhnya memahami setiap fungsi dasar perencanaan manajeman dan pengambilan keputusan, pengorganisasian, kepemimpinanan, dan pengendalian yang membentuk pekerjaan mereka. Manajer seharusnya juga mengetahui bahwa sementara masing-masing fungsi penting, manajer yang efektif terlatih dalam melaksanakan setiap fungsi dan harus mampu bergerak maju mundur diantara berbagai fungsi sesuai dengan keadaan, dan harus melaksanakan beberapa fungsi dan aktifitas secara bersamaan. Manajer tidak boleh hanya efektif dalam salah satu fungsi atau hanya melaksanakan sebagian fungsi karena semuanya penting.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Griffin, Ricky. 2004. MANAJEMEN Jilid 1 Edisi 7. Erlangga : Jakarta.

P. Robbins, Stephen, & A. Judge, Timothy. 2008. PERILAKU ORGANISASI Edisi 12. Penerbit Salemba Empat: Jakarta.

S.Ruky, Achmad. 2002. Sukses Seabagai Manajer Profesional tanpa Gelar MM atau MBA. Penerbit Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

http://ebookbrowsee.net/20090526-2-gaya-dan-tipologi-kepemimpinan1-doc-d654918423\ (Waktu Akses : Selasa, 15 April 2014, Pukul : 11.30 am)

http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PSIKOLOGI/195009011981032-RAHAYU_GININTASASI/kepemimpinan.pdf (Waktu Akses: Minggu, 13 April 2014, Pukul: 19.30 pm)


 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s