PENDIDIKAN PANCASILA #1

PENDIDIKAN PANCASILA


OLEH :

SULTAN AL ALAQ        18112173

KELAS        :        1KA04

DOSEN         :         MOESADIN MALIK, Ir. MSi.

 

SISTEM INFORMASI

FAKULTAS ILMU KOMPUTER & TEKNOLOGI INFORMASI

UNIVERSITAS GUNADARMA

TAHUN 2013

 


 

 

 

 

Penjelasan :

Pada waktu sedang maraknya pelaksanaan penataran P-4 pada era Orde Baru, Pancasila di antaranya diberi predikat “sakti.” Bahkan tanggal 1 Oktober diperingati sebagai “Hari Kesaktian Pancasila.” Timbul berbagai pendapat dalam masyarakat mengenai makna Pancasila sakti tersebut; apa yang dimaksud dengan sakti?

Apalagi akhir-akhir ini bangsa Indonesia mulai sadar diri betapa penting arti Pancasila untuk mendukung existensi negara-bangsa, sehingga Pancasila mulai diusung lagi ke permukaan, menjadi wacana di berbagai forum seminar dan diskusi. Bahkan kalau sejak reformasi tanggal 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila dilupakan, mulai tahun 2005, tanggal 1 Oktober diperingati lagi sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Oleh karena itu dipandang perlu untuk mendudukkan pengertian “Pancasila Sakti” secara proporsional, supaya tidak menimbulkan kesalah pahaman.

Sakti memiliki makna tidak terkalahkan, tidak dapat ditaklukkan. Sakti biasanya menjadi predikat bagi seseorang yang memiliki suatu kekuatan tertentu, baik fisik maupun non fisik, sehingga tidak akan terkena segala macam senjata baik senjata tajam maupun senjata yang tidak nampak. Dalam bahasa Jawa terdapat ungkapan; ” Ora tedas tapak paluning pande, sisaning gurendo,” menggambarkan seorang yang tidak akan terlukai oleh senjata apapun. Sakti merupakan kekuatan yang bersifat kemampuan bertahan diri dari segala macam ancaman dan gangguan.

Sangat erat dengan istilah sakti adalah “ampuh,” yang biasanya dipergunakan untuk memberikan gambaran mengenai kehebatan suatu senjata. Senjata yang ampuh adalah senjata yang memiliki daya hancur yang luar biasa, sehingga tidak ada satu obyekpun yang mampu untuk menahannya. Sebagai contoh keris Empu Gandring adalah sangat ampuh, tiada pandang bulu siapapun yang terkena oleh keris tersebut pasti lebur. Sebaliknya Tunggulametung yang pertama terkena keris tersebut kurang sakti sehingga tidak mampu menahan ke-ampuhan keris Empu Gandring. Kalau istilah sakti memiliki konotasi defensif, ampuh lebih bermakna ofensif atau proaktif, meskipun batas ini tidak kaku, bahkan dapat saling berganti.

Istilah sakti sering diberi padanan tangguh, perkasa dan sebagainya, merupakan istilah-istilah yang bombastis, lebih untuk konsumpsi politis, untuk maksud dan tujuan politik tertentu, oleh karena itu istilah tersebut tidak digunakan dalam uraian ini, dan lebih dititik beratkan pada ketepatan Pancasila bagi bangsa Indonesia dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Pancasila tepat bagi Bangsa Indonesia

Istilah “tepat” merupakan terjemahan dari bahasa Inggris valid. Webster memberi arti valid di antaranya adalah :

- having legal strength or force, strong, powerful

- well grounded or justifiable

- applicable to the matter at hand

- able to effect or accomplish what is designed or intended

- capable of measuring predicting,


dengan demikian “tepat” atau valid memiliki makna memiliki kekuatan yang sah, memiliki alasan kuat, benar atau adil, dapat diterapkan pada tempatnya, dapat mengerjakan atau menyelesaikan hal yang dirancang, mampu menjangkau masa depan. Sehingga bila kita mengatakan bahwa Pancasila itu adalah tepat bagi bangsa Indonesia, maka harus memenuhi ketentuan tersebut di atas yakni memiliki kekuatan yang sah, benar dan adil, dapat diterapkan, mampu menyelesaikan tujuan bangsa, dan dapat dipergunakan sebagai pegangan dalam menjangkau masa depan. Marilah kita mencoba untuk membuktikannya. Pancasila memiliki Kekuatan yang Sah

Pancasila sebagai Perekat Bangsa

Pancasila merupakan ideologi yang sangat tepat bagi suatu bangsa yang pluralistik. Bangsa Indonesia terdiri atas ratusan suku bangsa, yang memeluk berbagai agama, memiliki adat budaya yang beraneka ragam, sehingga tidak akan mungkin salah satu unsur atau komponen bangsa ini yang dijadikan dasar atau landasan bagi bangsa Indonesia yang majemuk ini. Pancasila merupakan common denominator, merupakan kristalisasi dari nilai, adat budaya yang berkembang pada suku bangsa di seluruh Indonesia. Prinsip dan nilai yang terkandung dalam Pancasila terdapat di mana saja, tidak bertentangan dengan adat budaya dari daerah-daerah, sehingga dapat menjadi perekat bangsa. Sementara itu bangsa Indonesia tersebar dari Sabang sampai Merauke yang meliputi jarak sekitar 5000 km dari barat ke timur, tersebar di ribuan pulau besar dan kecil yang dipisahkan oleh samudra yang luas. Tanpa adanya suatu perekat yang kuat maka dengan gampang akan terjadi pecah-belahnya bangsa Indonesia.

Pancasila mampu mengikat seluruh unsur bangsa, Pancasila merupakan cultural bond atau ligatur bagi bangsa Indonesia.

Sila kedua Pancasila memberikan landasan bagi terwujudnya kehidupan yang humanistik, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, sehingga mewajibkan setiap warganegara Indonesia untuk menjunjung tinggi hak asasi manusia secara adil dan beradab. Namun dalam merealisasikan hak asasi manusia secara adil dan beradab, wajib berdasar pada prinsip dan nilai yang terkandung dalam Pancasila; dengan kata lain Pancasila memberikan jaminan terwujudnya keadilan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Pancasila memiliki kemampuan menghadapi Masa Depan

Memasuki abad XXI dunia termasuk Indonesia dihadapkan pada gerakan mondial yang disebut globalisasi. Ada baiknya kalau kita cermati gerakan globalisasi ini untuk selanjutnya menilai mampukah Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa dijadikan dasar untuk mengantisipasi globalisasi dengan tepat.

Pancasila memiliki konsep tentang kebebasan, tentang hak asasi, mengenai demokrasi, serta cara menghadapi dan memecahkan permasalahan yang dihadapi. Dengan demikian Pancasila tidak anti terhadap globalisasi, tetapi dengan kebijaksanaan khusus yang bersumber dari nilai yang terkandung dalam Pancasila mengadakan antisipasi secara tepat, tidak menentang tetapi memberikan jalan akomodatif terhadap berlangsungnya globalisasi tanpa kehilangan jatidiri. Pancasila akan menjadi kekuatan bangsa yang tangguh dalam mengantisipasi masa depan.

Pancasila sebagai ideologi terbuka tidak alergi terhadap perubahan, namun perubahan tersebut diakomodasikan pada tataran instrumental dan praksis. Dalam menyelenggarakan perubahan Pancasila memberikan pedoman agar perubahan tersebut selalu dalam paradigma keberlanjutan dan kelestarian, sehingga perubahan, keberlanjutan dan kelestarian (change, continuity dan sustainability) akan terikat dalam suatu paradigma perkembangan.

 


 

 


 

 

 

 


 

KESIMPULAN : Dari uraian di atas nampak dengan nyata, betapa ketepatan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa Indonesia dalam menjemput masa depan mengantar bangsa terwujudnya masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera. Oleh karena itu, istilah Sakti, pantas diberikan pada Pancasila.

About these ads

1 Comment

  1. The enemy in globalizing is standardizing.Such as the only way to educate is offically acceptable. Or one flag as to be aceptable and no other flown over a building or burnt. Or a justice system that only allows official settlement in one court routine with only one ste of rules and available tools for responsible settlemetn. Stanardinzing does not settle all responsiblly.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s